Apa itu Net Zero Emission? Strategi, Tantangan, dan Peran Biochar untuk Capai Nol Emisi

Home > News

Apa itu Net Zero Emission? Strategi, Tantangan, dan Peran Biochar untuk Capai Nol Emisi

Emisi karbon dari operasional bisnis bukan lagi sekadar isu lingkungan. Bagi banyak perusahaan di Indonesia, ini sudah menjadi beban nyata karena memengaruhi akses ke pasar ekspor, penilaian investor, dan kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang.

Tekanan datang dari berbagai arah secara bersamaan. Pembeli global mensyaratkan jejak karbon yang terukur, lembaga keuangan memasukkan skor ESG ke dalam keputusan pembiayaan, dan pemerintah Indonesia mulai memberlakukan mekanisme perdagangan karbon yang lebih ketat.

Di tengah semua ini, konsep net zero emission perusahaan sering disebut sebagai jawabannya, namun banyak pelaku industri belum memahami apa yang benar-benar dibutuhkan untuk mencapainya secara kredibel dan terukur. Artikel ini membahas mulai dari definisi, regulasi, strategi, hingga solusi berbasis biochar yang relevan untuk konteks bisnis Indonesia.

Apa Itu Net Zero Emission?

Net zero emission adalah kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah yang diserap atau dihilangkan dari atmosfer. Secara sederhana, emisi yang tersisa setelah semua upaya reduksi dilakukan harus “dinolkan” melalui mekanisme penyerapan karbon yang terverifikasi.

Perlu dibedakan antara net zero dan carbon neutral. Carbon neutral biasanya merujuk pada keseimbangan emisi yang dicapai melalui offset saja, tanpa keharusan reduksi aktif. Net zero, terutama yang mengacu pada standar Science Based Targets initiative (SBTi), mensyaratkan reduksi emisi nyata secara signifikan sebelum mengandalkan carbon removal untuk sisa residual.

Menurut kerangka SBTi, perusahaan dianggap mencapai net zero jika telah memangkas emisi Scope 1, 2, dan 3 sebesar minimal 90 persen dari baseline, kemudian menetralkan sisa emisi yang tidak dapat dihilangkan melalui solusi penyerapan karbon permanen. Ini menjadikan net zero sebuah perjalanan panjang berbasis sains, bukan sekadar pembelian carbon credit.

Mengapa Perusahaan Perlu Target Net Zero?

Pertanyaan ini masih sering muncul di ruang rapat perusahaan-perusahaan Indonesia, terutama yang belum merasakan tekanan langsung dari pasar ekspor atau investor asing. Namun data dan tren global menunjukkan bahwa “menunggu kewajiban regulasi” bukan lagi pilihan yang aman.

Laporan dari CDP (Carbon Disclosure Project) tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari 18,7 triliun dolar AS nilai peluang bisnis berisiko terdampak perubahan iklim bagi perusahaan-perusahaan yang tidak bergerak cukup cepat. Di sisi lain, perusahaan yang memiliki target iklim terverifikasi cenderung mendapatkan biaya modal yang lebih rendah dan valuasi lebih tinggi di pasar modal.

Selain tekanan eksternal, ada dimensi kompetitif yang semakin nyata. Konsumen institusional dan korporasi besar di rantai pasok global kini secara aktif menyeleksi mitra bisnis berdasarkan rekam jejak dekarbonisasi mereka, sehingga perusahaan Indonesia tanpa strategi net zero yang jelas berisiko kehilangan kontrak dan akses ke pasar bernilai tinggi.

Regulasi dan Tekanan Pasar yang Mendorong Komitmen Net Zero di Indonesia

Indonesia bukan lagi pasar yang bebas dari kewajiban iklim. Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap regulasi dan tekanan dari rantai pasok global berubah cukup cepat sehingga banyak perusahaan mulai merevisi prioritas keberlanjutan mereka secara serius.

Tiga faktor utama mendorong percepatan komitmen net zero di kalangan korporasi nasional, mulai dari regulasi pemerintah, tekanan mitra dagang global, hingga peran sektor swasta dalam target iklim nasional.

1. Regulasi Karbon Nasional: Perpres 110/2025 dan Perdagangan Karbon Domestik

Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional kini menjadi fondasi hukum utama bagi mekanisme nilai ekonomi karbon di Indonesia, menggantikan Perpres Nomor 98 Tahun 2021.

Regulasi terbaru ini mengatur penyelenggaraan instrumen NEK secara lebih komprehensif, mencakup alokasi karbon, penyusunan dan penetapan NDC, tata laksana penyelenggaraan instrumen NEK, kerangka transparansi, pemantauan dan evaluasi, pembinaan dan pendanaan, hingga pembentukan komite pengarah sekaligus memperluas fokus ke sektor kehutanan melalui perhutanan sosial dan rehabilitasi lahan kritis.

2. Tekanan ESG dari Rantai Pasok Global

Perusahaan multinasional di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang semakin memasukkan klausul keberlanjutan dalam kontrak pengadaan mereka. Regulasi seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dari Uni Eropa secara efektif mengenakan “pajak karbon tersembunyi” pada produk impor dengan jejak emisi tinggi, termasuk dari Indonesia.

Artinya, eksportir produk berbasis komoditas seperti CPO, baja, semen, dan petrokimia perlu mendokumentasikan emisi mereka secara transparan. ESG compliance Indonesia bukan lagi soal reputasi semata, melainkan sudah menyentuh kelayakan akses pasar secara langsung.

3. Komitmen Sektor Swasta dalam NDC Indonesia

Indonesia telah merevisi Nationally Determined Contribution (NDC)-nya pada 2022, menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen dengan kemampuan sendiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030. Pencapaian angka ini tidak mungkin bertumpu pada pemerintah saja, karena sektor swasta memegang porsi emisi yang sangat signifikan.

Keterlibatan korporasi dalam pasar karbon sukarela dan mekanisme offset yang terverifikasi menjadi salah satu jalur konkret kontribusi swasta terhadap target nasional ini. Perusahaan yang proaktif bahkan berpeluang mendapatkan insentif, akses ke green financing, dan pengakuan dalam pelaporan NDC nasional.

Baca Juga : Verifikasi Carbon Credit: Cara Kerja, Standar Global, dan Implikasinya untuk ESG

Strategi Net Zero Emission Perusahaan yang Realistis dan Terukur

Banyak perusahaan merasa kewalahan ketika pertama kali membangun peta jalan net zero karena tampaknya terlalu kompleks dan mahal. Padahal, dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis data, strategi net zero bisa dimulai dari langkah-langkah yang terukur dan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing perusahaan.

Berikut adalah empat langkah inti yang direkomendasikan untuk membangun strategi net zero emission perusahaan yang kredibel, bukan sekadar formalitas pelaporan ESG.

Langkah 1 – Inventarisasi Emisi Scope 1, 2, dan 3

Tidak ada strategi dekarbonisasi yang bisa dibangun tanpa data emisi yang akurat. Inventarisasi emisi mencakup tiga cakupan: Scope 1 (emisi langsung dari operasional), Scope 2 (emisi tidak langsung dari konsumsi energi), dan Scope 3 (emisi di seluruh rantai nilai, termasuk bahan baku dan distribusi).

Scope 3 sering kali menjadi tantangan terbesar karena melibatkan pihak ketiga yang di luar kendali langsung perusahaan. Namun mengabaikannya bukan pilihan yang bijak, sebab pada banyak sektor industri, emisi Scope 3 bisa mencapai lebih dari 70 persen dari total jejak karbon korporat menurut data GHG Protocol.

Langkah 2 – Menetapkan Target Berbasis Sains (Science-Based Targets)

Setelah baseline emisi diketahui, langkah berikutnya adalah menetapkan target reduksi yang selaras dengan skenario 1,5 derajat Celsius dari Science Based Targets initiative (SBTi). Target ini lebih dari sekadar angka internal, karena memberikan kredibilitas eksternal yang diakui oleh investor, pembeli global, dan lembaga pemeringkat ESG.

Proses validasi SBTi memang memerlukan investasi waktu dan sumber daya, namun hasilnya adalah komitmen yang sulit dipertanyakan. Ini membedakan perusahaan yang benar-benar berkomitmen pada dekarbonisasi industri dari mereka yang sekadar melakukan greenwashing.

Langkah 3 – Reduksi Emisi Operasional Secara Bertahap

Transisi ke energi terbarukan, efisiensi proses produksi, elektrifikasi armada kendaraan, dan optimasi rantai pasok adalah beberapa jalur reduksi yang bisa dijalankan secara bertahap. Tidak semua bisa dilakukan sekaligus, sehingga prioritisasi berdasarkan potensi reduksi dan kelayakan ekonomi menjadi sangat penting.

Perusahaan-perusahaan terkemuka di Asia Tenggara umumnya menetapkan milestone reduksi setiap lima tahun dengan indikator terukur, alih-alih mengejar target besar tanpa rencana implementasi yang konkret. Pendekatan ini lebih dapat dipertanggungjawabkan kepada stakeholder eksternal.

Langkah 4 – Menggunakan Carbon Credit Berkualitas untuk Sisa Emisi Residual

Tidak semua emisi dapat dihilangkan melalui reduksi operasional, terutama emisi dari proses industri tertentu yang secara teknis sangat sulit dihindari. Di sinilah carbon credit perusahaan berkualitas tinggi berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti, dari upaya reduksi nyata.

Kualitas carbon credit sangat ditentukan oleh metodologi MRV (Monitoring, Reporting, and Verification) yang digunakan. Carbon offset berkualitas tinggi harus memenuhi kriteria additionality, permanence, dan verifiability, serta sebaiknya didukung oleh solusi berbasis alam atau teknologi removal yang memiliki dampak jangka panjang dan dapat dibuktikan.

Peran Biochar dan Carbon Removal dalam Strategi Net Zero

Biochar adalah salah satu solusi carbon removal yang semakin mendapat perhatian serius dari komunitas iklim global karena kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka sangat panjang. Berbeda dengan offset berbasis penghindaran emisi, biochar carbon removal secara aktif menarik karbon dari atmosfer dan menguncinya dalam matriks karbon yang stabil selama ratusan hingga ribuan tahun.

Bahan baku biochar umumnya berasal dari limbah biomassa pertanian dan kehutanan yang jika dibiarkan akan terurai dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer. Dengan mengkonversi limbah ini melalui proses pirolisis, biochar tidak hanya menciptakan kredit karbon yang terverifikasi, tetapi juga menghasilkan manfaat ko-benefit seperti peningkatan kesuburan tanah, pengelolaan limbah pertanian, dan pemberdayaan komunitas lokal.

Dari perspektif MRV carbon credit, biochar memiliki keunggulan dalam hal permanence karena karbon yang tersimpan di dalamnya jauh lebih stabil dibandingkan solusi berbasis vegetasi seperti reforestasi yang rentan terhadap kebakaran atau alih fungsi lahan. Standar seperti European Biochar Certificate (EBC) dan Puro.earth menyediakan kerangka verifikasi yang diakui secara internasional, sehingga net zero emission perusahaan yang menggunakan biochar sebagai bagian dari portofolio offset mereka memiliki dasar klaim yang lebih kuat di hadapan auditor dan investor.

Indonesia sendiri memiliki potensi besar untuk menjadi produsen biochar skala signifikan mengingat ketersediaan limbah biomassa pertanian yang melimpah dari sektor perkebunan sawit, padi, dan tebu. Integrasi biochar ke dalam strategi net zero korporat sekaligus membuka peluang kemitraan dengan petani lokal dan mendukung agenda ekonomi sirkular yang sejalan dengan prioritas kebijakan nasional.

Langkah Memulai Perjalanan Net Zero Perusahaan Anda

Memulai perjalanan net zero tidak harus sempurna sejak hari pertama. Yang paling penting adalah memulai dengan data yang jujur, komitmen manajemen puncak, dan roadmap yang realistis sesuai kapasitas perusahaan saat ini.

Mulailah dengan audit emisi dasar menggunakan metodologi GHG Protocol sebagai standar yang paling banyak diakui secara global. Audit ini akan memberikan gambaran baseline yang menjadi titik acuan semua keputusan reduksi dan offset ke depannya.

Selanjutnya, identifikasi peluang reduksi dengan nilai ekonomi positif terlebih dahulu, seperti efisiensi energi atau transisi ke energi terbarukan yang sudah kompetitif secara biaya di Indonesia. Langkah ini membuktikan bahwa strategi net zero perusahaan yang baik tidak selalu berbiaya tinggi, bahkan bisa menghasilkan penghematan operasional yang signifikan.

Setelah reduksi berjalan, bangun portofolio carbon credit yang berkualitas untuk menangani emisi residual. Pilih kredit yang memiliki co-benefit terukur, didukung MRV yang ketat, dan diverifikasi oleh lembaga independen yang diakui pasar internasional. Transparansi dalam pelaporan adalah kunci untuk menjaga kepercayaan stakeholder dalam jangka panjang.

Terakhir, integrasikan semua ini ke dalam pelaporan keberlanjutan yang terstruktur, baik melalui kerangka GRI, TCFD, maupun CDP. Pelaporan yang konsisten dan terverifikasi adalah bukti konkret bahwa komitmen net zero bukan sekadar pernyataan publik, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mulai Perjalanan Net Zero Anda Bersama Planet Carbon

Mencapai net zero emission perusahaan adalah proses yang membutuhkan mitra yang tepat, bukan hanya vendor karbon. Dibutuhkan mitra yang memahami kompleksitas operasional bisnis Anda sekaligus memiliki keahlian teknis dalam pengembangan, validasi, dan komersialisasi solusi carbon removal yang benar-benar terukur.

Planet Carbon hadir sebagai integrated carbon solutions platform yang menghubungkan seluruh rantai nilai dekarbonisasi, mulai dari pengembangan proyek biochar berbasis limbah biomassa lokal, proses validasi dengan standar MRV internasional, hingga komersialisasi carbon credit berkualitas tinggi di pasar karbon sukarela global.

Jika perusahaan Anda sedang membangun peta jalan net zero, mengevaluasi opsi carbon offset, atau ingin memahami lebih dalam bagaimana biochar dapat menjadi bagian dari strategi iklim Anda, tim Planet Carbon siap berdiskusi tanpa tekanan. Hubungi kami di planetcarbon.earth untuk menjadwalkan sesi konsultasi awal dan mulai membangun fondasi net zero emission perusahaan yang kredibel dan berdampak nyata.

Referensi:

Baca Juga : Mengenal Carbon Credit Marketplace: Cara Kerja, Pemain Utama, dan Peluang Investasi

Berikan Respon

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *